6 Cara Mengatur Finansial Pasangan Baru dalam Rumah Tangga

Perencanaan Keuangan Pasangan Muda sangatlah penting. Apalagi masa-masa di awal pernikahan itu adalah masa-masa yang paling indah sekaligus rentan pertikaian. Orang tua jaman dulu bilang awal pernikahan hingga usia pernikahan 5 tahun masih memasuki tahap perkenalan. Jadi pasti timbul konflik pada masa ini sangatlah wajar.

Hal yang paling rentan untuk memicu munculnya konflik biasanya adalah soal uang. Belum lagi jika sebelum menikah, ternyata salah satu pasangan punya hutang besar yang belum dibayar. Akan jadi masalah jika setelah menikah, pasangan tadi meminta pasangannya melunasi hutang piutangnya.

Transparansi sangat diperlukan untuk menghindari konflik sekecil apapun. Karena itulah perlu adanya perencanaan keuangan pasangan muda di awal pernikahan.

Cara Mengatur Finansial Pasangan Muda

Cara Mengatur Finansial Pasangan Muda

Menikah berarti menyatukan dua kepribadian yang berbeda. Saat menikah inilah saat yang tepat untuk saling memahami pasangan. Terutama untuk soal gaya hidup. Misal istri yang suka traveling atau suami yang suka modifikasi kendaraan. Semuanya akan berpengaruh pada keuangan setelah menikah.

Keputusan apapun yang menyangkut uang biasanya bisa menimbulkan konflik jika tidak dibicarakan dengan baik. Karenanya diperlukan perencanaan keuangan pasangan muda agar bisa saling mengerti. Cara mengatur finansial pasangan muda ada beragam cara. 6 diantaranya ada pada poin-poin berikut ini.

1. Mendiskusikan Motivasi Keuangan

Uang bisa menjadi masalah jika tidak dibicarakan dengan pikiran terbuka dan kepala dingin. Karena itu setelah menikah, perlu adanya saling transparan mengenai apa motivasi keuangan masing-masing. Apakah untuk investasi, atau mau menabung untuk membeli rumah atau yang lainnya.

Pasangan perlu terbuka dalam membicarakan soal uang. Jangan ada yang dirahasiakan, meskipun masalah sekecil apapun. Diskusikan berdua untuk mendapatkan solusi terbaik di masa depan.

2. Menyusun Bersama Tujuan Keuangan

Setelah motivasi keuangan terbentuk, langkah selanjutnya adalah mengatur keuangan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Apakah ada rencana jalan-jalan bulan depan atau akhir tahun. Atau ingin menabung demi bisa membeli rumah. Diskusikan masalah ini dengan kepala dingin.

Pendapat istri mungkin saja berbeda dengan suami. Istri mungkin perlu pengeluaran skincare atau perawatan yang sudah dilakoninya sebelum menikah. Jika kebiasaan itu tetap perlu dilakukan setelah menikah, maka bicarakan dengan baik-baik kepada suami. Asalkan tidak mengganggu masalah keuangan inti, sepertinya tidak akan jadi masalah. Hal yang sama juga bisa dilakukan ketika suami ingin memodifikasi mobil atau motor misalnya.

Pengeluaran di luar masalah inti seperti belanja bulanan, jika dibicarakan dengan baik-baik pasti akan membuat tenang masing-masing pasangan. Tak perlu ada yang ditutupi dan semuanya ditulis bersamaan. Kapan ada pengeluaran dan kapan ada pemasukan.

3. Membuat Daftar Aset dan Hutang

Masing-masing pasangan bisa saja membawa asset sebelum menikah. Misal sudah punya rumah, mobil atau motor. Atau bahkan membawa hutang seperti cicilan mobil atau cicilan motor. Nah setelah menikah, masalah asset dan hutang ini harus dibicarakan dengan pasangan.

Misal untuk cicilan mobil. Apakah tetap ditanggung masing-masing atau ditanggung bersama sebagai pasangan. Sikap transparan sangat diperlukan untuk menghindari adanya pertengkaran ya. Kalau pasangan tidak setuju untuk membayar cicilan pasangannya, jangan dipaksakan. Suami harus bertanggung jawab dengan tidak membebankan beban hutang kepada istrinya. Begitu juga sebaliknya.

4. Menggabungkan Keuangan

Setelah menikah, masalah keuangan bersama perlu didiskusikan agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan. Apakah sendiri-sendiri ataukah digabungkan antara pendapatan suami dan istri.

Beberapa pendapatan mungkin bisa digabungkan untuk tujuan pengeluaran bersama. Seperti membayar cicilan, tabungan atau hal darurat lainnya. Tapi tetap berikan kesempatan pasangan untuk memegang uangnya sendiri, tanpa kita paksa untuk menggabungkan.

Persoalan pengeluaran yang sendiri-sendiri, tentu saja harus memperhatikan soal pengeluaran inti ya. Pastikan kebutuhan pokok sudah terpenuhi seperti belanja bulanan, bayar listrik, air dan tagihan lainnya. Sementara untuk gaya hidup seperti jalan-jalan, beli baju atau skincare, bolehlah disisihkan setelah kebutuhan pokok terpenuhi.

Suami istri harus membicarakan soal mengatur finansial ini dengan baik-baik. Jangan sampai ada yang dirahasiakan, sehingga menimbulkan konflik ke depannya nanti.

5. Menerapkan Anggaran Bulanan

Tagihan yang dibayar tiap bulan atau belanja bulanan haruslah diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengalami macet dan terbayarkan tepat waktu. Makanya perlu ada pembicaraan mengenai apa saja anggaran yang dikeluarkan tiap bulan.

Tentukan juga siapa yang memegang anggaran tersebut. Siapa yang membayar tagihan, siapa yang menabung dan sebagainya. Jika ada pengeluaran dadakan, juga harus dibicarakan dengan pasangannya. Buat pasangan mengerti sehingga jika ada pengeluaran dadakan dan penting, tak akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.

6. Pengadaan Asuransi

Asuransi yang paling diperlukan untuk rumah tangga adalah asuransi kesehatan. Ini sangat membantu sekali, terutama jika salah satu anggota keluarga tiba-tiba sakit dan tidak ada dana darurat untuk pengobatan.

Jika ingin menambah asuransi lainnya seperti asuransi jiwa atau asuransi mobil, tentu harus persetujuan pasangan. Masalah asuransi apapun, pasangan wajib tahu dan disepakati bersama. Jika pasangan tidak setuju dengan pengadaan asuransi tertentu, pasangannya tak boleh marah.

Beragam alasan bisa jadi pertimbangan perlu tidaknya sebuah asuransi dalam rumah tangga. Sesuaikan dengan pendapatan per bulan ya, agar keuangan tidak membengkak karena terlalu banyak yang harus dibayarkan per bulannya.

Keberhasilan Perencanaan Keuangan Pasangan Muda

Tidak bisa dipungkiri jika pasangan muda yang baru menikah, masih mengandalkan ego masing-masing. Apalagi jika istri juga masih meniti karir dan mempunyai penghasilan sendiri. Masalah seperti urusan belanja bulanan atau beragam tagihan tentunya harus dibicarakan berdua.

Poin terpenting dalam perencanaan keuangan pasangan muda adalah sikap terbuka dan saling menghargai. Artinya jika pasangan tidak menyetujui adanya pengeluaran tertentu, misalnya membeli makeup melebihi batas pengeluaran, maka istri tidak boleh marah. Begitu juga ketika suami menghabiskan uang untuk nongkrong bersama teman-temannya.

Oleh karena itulah harus ditentukan siapa yang bertugas membayar segala macam tagihan dan siapa yang mengatur pengeluaran atau pemasukan. Pendapat pasangan harus didengarkan dan dihargai. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Bicarakan dan diskusikan apapun yang berhubungan dengan mengatur finansial bersama pasangan.

Sikap keterbukaan inilah yang bisa membuat perencanaan keuangan pasangan muda ini berhasil. Mau menabung untuk membeli rumah, atau pergi haji atau mau jalan-jalan keliling dunia. Semua sudah diatur dengan baik. Bahkan dana darurat sudah ada, kalau seandainya ada pengeluaran dadakan. Awalnya mungkin susah, tapi lama-lama akan terbiasa.

Tinggalkan komentar